{"id":3138,"date":"2025-12-09T14:00:10","date_gmt":"2025-12-09T07:00:10","guid":{"rendered":"https:\/\/dazo.id\/blog\/?p=3138"},"modified":"2025-12-09T15:10:45","modified_gmt":"2025-12-09T08:10:45","slug":"open-rate-broadcast","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/dazo.id\/blog\/bisnis\/open-rate-broadcast\/","title":{"rendered":"Strategi Jitu untuk Meningkatkan Open Rate Broadcast"},"content":{"rendered":"<p data-start=\"307\" data-end=\"701\">Sebagian besar pemilik bisnis pernah merasa bahwa pesan broadcast yang dikirim tidak direspons sesuai harapan. Padahal pesan tersebut sudah dirancang rapi, dipikirkan matang, bahkan dikirim di jam yang dianggap \u201cpaling tepat\u201d. Nyatanya, open rate sering kali justru turun atau stagnan. Kondisi ini wajar karena perilaku pengguna WhatsApp dan kanal pesan lainnya semakin padat dan cepat berubah.<\/p>\n<p data-start=\"703\" data-end=\"1010\">Namun open rate sebenarnya dapat ditingkatkan dengan pendekatan yang lebih humanis, data-driven, dan konsisten. Kuncinya ada pada cara memahami kebiasaan pelanggan serta mengatur format pesan agar sesuai dengan ekspektasi mereka. Berikut panduan lengkap dari <a href=\"https:\/\/dazo.id\/blog\/\"><strong>blog Dazo<\/strong> <\/a>\u00a0yang bisa membantu Anda melihat perubahan signifikan pada strategi open rate broadcast Anda.<\/p>\n<p data-start=\"703\" data-end=\"1010\"><a href=\"https:\/\/wa.me\/6282299993245?utm_source=blog_dazo_id&amp;utm_medium=banner_artikelEF&amp;utm_campaign=lead_november25&amp;utm_content=click_banner2\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter wp-image-2882 size-full\" src=\"https:\/\/dazo.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/Efficiency-AI.png\" alt=\"Banner Campaign Nov 2 2025\" width=\"1231\" height=\"173\" srcset=\"https:\/\/dazo.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/Efficiency-AI.png 1231w, https:\/\/dazo.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/Efficiency-AI-300x42.png 300w, https:\/\/dazo.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/Efficiency-AI-1024x144.png 1024w, https:\/\/dazo.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/Efficiency-AI-768x108.png 768w\" sizes=\"(max-width: 767px) 89vw, (max-width: 1000px) 54vw, (max-width: 1071px) 543px, 580px\" \/><\/a><\/p>\n<h2 data-start=\"1017\" data-end=\"1068\"><strong data-start=\"1020\" data-end=\"1068\">Mengapa Open Rate Broadcast Bisa Rendah?<\/strong><\/h2>\n<p data-start=\"1070\" data-end=\"1366\">Beberapa penelitian menunjukkan fenomena <em>user fatigue<\/em> menjadi faktor dominan. Beberapa studi menunjukkan bahwa banyak pengguna cenderung mengabaikan pesan promosi yang dianggap tidak relevan. Fenomena ini memperkuat pentingnya segmentasi dan relevansi dalam pengiriman marketing lewat chat. Selain itu, kebiasaan multitasking di masyarakat akan membuat pesan mudah tertimbun dan berakibat lupa untuk dibaca maupun dibalas. Namun diluar hal tersebut masih ada beberapa penyebab umum, diantaranya:<\/p>\n<ol>\n<li style=\"list-style-type: none;\">\n<ol>\n<li style=\"list-style-type: none;\">\n<ol>\n<li data-start=\"1070\" data-end=\"1366\"><strong data-start=\"1400\" data-end=\"1455\">Isi pesan tidak relevan dengan kebutuhan pelanggan<br \/>\n<\/strong>Pelanggan hanya membuka pesan yang dirasa bermanfaat bagi dirinya.<\/li>\n<li data-start=\"1070\" data-end=\"1366\"><strong data-start=\"1519\" data-end=\"1552\">Waktu pengiriman tidak tepat<br \/>\n<\/strong>Banyak pesan terkirim justru ketika pengguna sedang bekerja atau sibuk, sehingga potensi tidak terbaca dan tertimbun dengan pesan lain cukup besar.<\/li>\n<li data-start=\"1070\" data-end=\"1366\"><strong data-start=\"1634\" data-end=\"1677\">Broadcast dikirim ke segmen yang salah<br \/>\n<\/strong>Pengguna baru dan pelanggan lama memiliki kebutuhan yang berbeda, tidak bisa disama ratakan. Maka cara menyampaikan pesan juga memiliki strategi tersendiri, agar tujuan bisnis tetap tercapai.<\/li>\n<li data-start=\"1070\" data-end=\"1366\"><strong data-start=\"1752\" data-end=\"1786\">Terlalu sering mengirim pesan<br \/>\n<\/strong>Frekuensi tinggi menurunkan minat untuk membuka broadcast berikutnya.<\/li>\n<\/ol>\n<\/li>\n<\/ol>\n<\/li>\n<\/ol>\n<p data-start=\"1863\" data-end=\"1994\">Dengan memahami alasan ini, langkah selanjutnya adalah memperbaiki strategi komunikasi agar lebih sesuai dengan perilaku pelanggan.<\/p>\n<p data-start=\"1863\" data-end=\"1994\"><a href=\"https:\/\/dazo.id\/\"><img decoding=\"async\" class=\"aligncenter wp-image-3144 size-full\" src=\"https:\/\/dazo.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/Infografis_website_24.webp\" alt=\"Infografis penyebab rendahnya open rate broadcast\" width=\"1104\" height=\"621\" srcset=\"https:\/\/dazo.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/Infografis_website_24.webp 1104w, https:\/\/dazo.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/Infografis_website_24-300x169.webp 300w, https:\/\/dazo.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/Infografis_website_24-1024x576.webp 1024w, https:\/\/dazo.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/Infografis_website_24-768x432.webp 768w\" sizes=\"(max-width: 767px) 89vw, (max-width: 1000px) 54vw, (max-width: 1071px) 543px, 580px\" \/><\/a><\/p>\n<h2 data-start=\"2001\" data-end=\"2061\"><strong data-start=\"2004\" data-end=\"2061\">Gunakan Segmentasi agar Pesan Lebih Tepat Sasaran<\/strong><\/h2>\n<p data-start=\"2063\" data-end=\"2331\">Segmentasi terbukti mampu meningkatkan open rate secara signifikan. Data dari campaign monitor menunjukkan bahwa email ataupun pesan yang disegmentasi bisa meningkatkan open rate hingga ke level interaksi sebanyak 50% dibandingkan pesan massal yang tidak tersegmentasi. Prinsip yang sama berlaku pada broadcast WhatsApp, Anda bisa mulai dengan segmentasi sederhana:<\/p>\n<ul>\n<li style=\"list-style-type: none;\">\n<ul>\n<li style=\"list-style-type: none;\">\n<ul>\n<li data-start=\"2063\" data-end=\"2331\">Pelanggan baru<\/li>\n<li data-start=\"2063\" data-end=\"2331\">Pelanggan aktif<\/li>\n<li data-start=\"2063\" data-end=\"2331\">Pelanggan pasif<\/li>\n<li data-start=\"2063\" data-end=\"2331\">Pelanggan yang pernah membeli kategori produk tertentu<\/li>\n<\/ul>\n<\/li>\n<\/ul>\n<\/li>\n<\/ul>\n<p data-start=\"2497\" data-end=\"2759\">Setiap segmen membutuhkan informasi berbeda. Misalnya, pelanggan baru lebih cocok menerima edukasi produk singkat, sedangkan pelanggan lama lebih responsif terhadap informasi stok baru atau program loyalti. Semakin relevan pesannya, semakin tinggi open rate-nya.<\/p>\n<blockquote>\n<p data-start=\"2497\" data-end=\"2759\">Baca juga: <a href=\"https:\/\/dazo.id\/blog\/bisnis\/customer-behavior-analytics\/\"><strong>Kupas Tuntas Customer Behavior Analytics untuk Bisnis<\/strong><\/a><\/p>\n<\/blockquote>\n<h2 data-start=\"2766\" data-end=\"2837\"><strong data-start=\"2769\" data-end=\"2837\">Buat Judul Pesan yang Ringkas dan Mengundang Rasa Ingin Tahu<\/strong><\/h2>\n<p data-start=\"2839\" data-end=\"3045\">Judul atau kalimat pertama merupakan \u201cgerbang\u201d yang menentukan apakah pelanggan akan membuka pesan yang dikirim. Karena format broadcast WhatsApp biasanya menampilkan dua baris pertama, maka bagian ini perlu dirancang secara cermat. Beberapa prinsip yang bisa diterapkan:<\/p>\n<ul>\n<li style=\"list-style-type: none;\">\n<ul>\n<li style=\"list-style-type: none;\">\n<ul>\n<li data-start=\"2839\" data-end=\"3045\">Gunakan kata yang memicu rasa penasaran, misalnya \u201cAda update penting untuk kamu hari ini\u201d, \u201cPilihan baru yang lebih praktis\u201d, atau \u201cStok terbatas, cek sebelum habis\u201d.<\/li>\n<li data-start=\"2839\" data-end=\"3045\">Hindari kata-kata clickbait yang membuat pelanggan merasa tertipu.<\/li>\n<li data-start=\"2839\" data-end=\"3045\">Gunakan personalisasi, seperti nama pelanggan atau kategori produk yang pernah mereka lihat.<\/li>\n<\/ul>\n<\/li>\n<\/ul>\n<\/li>\n<\/ul>\n<p data-start=\"3434\" data-end=\"3516\">Pendekatan personal membuat pesan terasa lebih dekat, bukan sekadar siaran massal.<\/p>\n<blockquote>\n<p data-start=\"3434\" data-end=\"3516\">Baca juga: <a href=\"https:\/\/dazo.id\/blog\/order-management\/tahapan-manajemen-pesanan\/\"><strong>Cara Aman Kirim WhatsApp Broadcast Campaign Tanpa Diblokir!<\/strong><\/a><\/p>\n<\/blockquote>\n<h2 data-start=\"3523\" data-end=\"3584\"><strong data-start=\"3526\" data-end=\"3584\">Pilih Waktu Pengiriman yang Tepat Berdasarkan Data<\/strong><\/h2>\n<p data-start=\"3586\" data-end=\"3847\">Pengiriman broadcast tidak bisa hanya mengandalkan intuisi, Anda perlu melakukan A\/B testing agar paham kapan audiens paling responsif, karena tiap bisnis memiliki perilaku yang berbeda-beda. Timing hanyalah faktor dari banyak aspek kampanye (konten, segmentasi, relevansi, frekuensi). Kombinasikan hal-hal tersebut dengan strategi segmentasi dan personalisasi agar hasil maksimal.<\/p>\n<p data-start=\"3586\" data-end=\"3847\">Menurut laporan laporan Omnisend (2024)\u00a0 pada email marketing menunjukkan bahwa open rate tertinggi muncul pada jam-jam tertentu, misalnya malam hari 8:00 PM, lalu siang hari 2:00 PM, dan malam menjelang tidur. Tentunya hal ini juga dapat diterapkan pada penggunaan broadcast WhatsApp.<\/p>\n<h2 data-start=\"4073\" data-end=\"4133\"><strong data-start=\"4076\" data-end=\"4133\">Gunakan Copywriting yang Padat dan Mudah Dipahami<\/strong><\/h2>\n<p data-start=\"4135\" data-end=\"4312\">Isi pesan yang terlalu panjang membuat pelanggan enggan membuka atau membacanya. Sementara pesan yang singkat tetapi informatif akan terasa lebih efisien. Beberapa tips praktis:<\/p>\n<ul>\n<li style=\"list-style-type: none;\">\n<ul>\n<li style=\"list-style-type: none;\">\n<ul>\n<li data-start=\"4135\" data-end=\"4312\">Sampaikan maksud inti dalam tiga atau empat kalimat awal.<\/li>\n<li data-start=\"4135\" data-end=\"4312\">Gunakan poin-poin untuk memecah informasi.<\/li>\n<li data-start=\"4135\" data-end=\"4312\">Sertakan manfaat secara langsung, bukan hanya fitur produk.<\/li>\n<li data-start=\"4135\" data-end=\"4312\">Gunakan cerita singkat bila relevan agar pesan terasa lebih manusiawi.<\/li>\n<\/ul>\n<\/li>\n<\/ul>\n<\/li>\n<\/ul>\n<p data-start=\"4561\" data-end=\"4643\">Semakin mudah dicerna, semakin tinggi peluang pelanggan untuk melanjutkan membaca.<\/p>\n<h2 data-start=\"4650\" data-end=\"4712\"><strong data-start=\"4653\" data-end=\"4712\">Tambahkan CTA yang Natural dan Tidak Mengintimidasi<\/strong><\/h2>\n<p data-start=\"4714\" data-end=\"4793\">CTA terbaik bukan hanya yang mendorong aksi, tetapi juga terasa ringan. Contoh:<\/p>\n<ul>\n<li style=\"list-style-type: none;\">\n<ul>\n<li style=\"list-style-type: none;\">\n<ul>\n<li data-start=\"4714\" data-end=\"4793\">\u201cBoleh cek dulu kalau sedang butuh ya.\u201d<\/li>\n<li data-start=\"4714\" data-end=\"4793\">\u201cKalau mau lihat detailnya, tinggal klik tombol ini.\u201d<\/li>\n<li data-start=\"4714\" data-end=\"4793\">\u201cKalau penasaran, aku siap bantu jelaskan lebih lanjut.\u201d<\/li>\n<\/ul>\n<\/li>\n<\/ul>\n<\/li>\n<\/ul>\n<p data-start=\"4957\" data-end=\"5047\">CTA seperti ini tidak menekan pelanggan sehingga open rate maupun click rate tetap stabil.<\/p>\n<p data-start=\"4957\" data-end=\"5047\"><a href=\"https:\/\/wa.me\/6282299993245?utm_source=blog_dazo_id&amp;utm_medium=banner_artikelPA&amp;utm_campaign=lead_november25&amp;utm_content=click_banner1\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><img decoding=\"async\" class=\"aligncenter wp-image-2881 size-full\" src=\"https:\/\/dazo.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/Problem-Awareness-AI.png\" alt=\"Banner Campaign Nov 1 2025\" width=\"1231\" height=\"173\" srcset=\"https:\/\/dazo.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/Problem-Awareness-AI.png 1231w, https:\/\/dazo.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/Problem-Awareness-AI-300x42.png 300w, https:\/\/dazo.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/Problem-Awareness-AI-1024x144.png 1024w, https:\/\/dazo.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/Problem-Awareness-AI-768x108.png 768w\" sizes=\"(max-width: 767px) 89vw, (max-width: 1000px) 54vw, (max-width: 1071px) 543px, 580px\" \/><\/a><\/p>\n<h2 data-start=\"5054\" data-end=\"5112\"><strong data-start=\"5057\" data-end=\"5112\">Konsisten Mengirim Pesan namun Tidak Berlebihan<\/strong><\/h2>\n<p data-start=\"5114\" data-end=\"5360\">Frekuensi yang ideal biasanya 1\u20133 kali per minggu, tergantung jenis bisnis dan kebutuhan pelanggan. Konsistensi membantu membentuk kebiasaan pelanggan membuka pesan, namun frekuensi berlebihan memunculkan kejenuhan. Anda bisa memantau metrik:<\/p>\n<ul>\n<li style=\"list-style-type: none;\">\n<ul>\n<li style=\"list-style-type: none;\">\n<ul>\n<li data-start=\"5114\" data-end=\"5360\">Open rate harian<\/li>\n<li data-start=\"5114\" data-end=\"5360\">Pola unsubscribe atau blokir<\/li>\n<li data-start=\"5114\" data-end=\"5360\">Respons pelanggan terhadap pesan tertentu<\/li>\n<\/ul>\n<\/li>\n<\/ul>\n<\/li>\n<\/ul>\n<p data-start=\"5462\" data-end=\"5527\">Jika terjadi penurunan, segera evaluasi frekuensi atau isi pesan.<\/p>\n<h2 data-start=\"5534\" data-end=\"5594\"><strong data-start=\"5537\" data-end=\"5594\">Manfaatkan Automasi agar Pengiriman Lebih Terukur<\/strong><\/h2>\n<p data-start=\"5596\" data-end=\"5720\">Automasi membantu memastikan pesan terkirim secara konsisten dan sesuai kebutuhan setiap segmen. Dengan automasi, Anda bisa:<\/p>\n<ul>\n<li style=\"list-style-type: none;\">\n<ul>\n<li style=\"list-style-type: none;\">\n<ul>\n<li data-start=\"5596\" data-end=\"5720\">Menjadwalkan pesan pada waktu paling ideal<\/li>\n<li data-start=\"5596\" data-end=\"5720\">Menyesuaikan isi pesan otomatis berdasarkan kategori pelanggan<\/li>\n<li data-start=\"5596\" data-end=\"5720\">Menghindari kesalahan seperti duplikasi broadcast<\/li>\n<li data-start=\"5596\" data-end=\"5720\">Menganalisis performa melalui dashboard<\/li>\n<\/ul>\n<\/li>\n<\/ul>\n<\/li>\n<\/ul>\n<p data-start=\"5935\" data-end=\"6083\">Banyak studi menunjukkan bahwa automasi komunikasi bisa meningkatkan open rate hingga 30\u201345%, terutama bagi bisnis dengan basis pelanggan besar.<\/p>\n<blockquote>\n<p data-start=\"5935\" data-end=\"6083\">Baca juga: <a href=\"https:\/\/dazo.id\/blog\/chatbot\/aplikasi-pengirim-wa-massal\/\"><strong>Aplikasi Pengirim WA Massal untuk Perluas Jangkauan Bisnis<\/strong><\/a><\/p>\n<\/blockquote>\n<h2 data-start=\"6090\" data-end=\"6107\"><strong data-start=\"6093\" data-end=\"6107\">Kesimpulan<\/strong><\/h2>\n<p data-start=\"6109\" data-end=\"6455\">Meningkatkan open rate broadcast bukan sekadar soal mengirimkan pesan lebih banyak, tetapi mengirim pesan yang tepat kepada orang yang tepat pada waktu yang tepat. Dengan fokus pada segmentasi, copywriting yang relevan, pengaturan waktu yang konsisten, dan pemanfaatan automasi, performa komunikasi Anda akan meningkat secara bertahap dan stabil.<\/p>\n<p data-start=\"6457\" data-end=\"6860\">Jika Anda ingin prosesnya berjalan lebih mudah, terukur, dan otomatis, Anda bisa mempertimbangkan solusi seperti <strong data-start=\"6570\" data-end=\"6578\">Dazo<\/strong>, sebuah <a href=\"https:\/\/dazo.id\/ai-chat\"><strong>aplikasi Chatbot AI<\/strong><\/a> yang membantu UMKM mengelola seluruh interaksi pelanggan, CRM, hingga penjualan dalam satu alur terpadu. Dengan dukungan automasi pintar, Anda bisa mengirim pesan yang lebih relevan dan meningkatkan open rate tanpa harus mengurus semuanya secara manual.<\/p>\n<h2 data-start=\"6457\" data-end=\"6860\">Referensi<\/h2>\n<p><em>24 Email Marketing Stats You Need to Know, 2019 (campaignmonitor.com)<\/em><\/p>\n<p><em>The Best Time to Send an Email, 2024 Research (Omnisend.com)<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sebagian besar pemilik bisnis pernah merasa bahwa pesan broadcast yang dikirim tidak direspons sesuai harapan. Padahal pesan tersebut sudah dirancang rapi, dipikirkan matang, bahkan dikirim di jam yang dianggap \u201cpaling tepat\u201d. Nyatanya, open rate sering kali justru turun atau stagnan. Kondisi ini wajar karena perilaku pengguna WhatsApp dan kanal pesan lainnya semakin padat dan cepat &hellip; <\/p>\n<p class=\"link-more\"><a href=\"https:\/\/dazo.id\/blog\/bisnis\/open-rate-broadcast\/\" class=\"more-link\">Continue reading<span class=\"screen-reader-text\"> &#8220;Strategi Jitu untuk Meningkatkan Open Rate Broadcast&#8221;<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":3,"featured_media":3133,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-3138","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-bisnis"],"rttpg_featured_image_url":{"full":["https:\/\/dazo.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/179.webp",1920,800,false],"landscape":["https:\/\/dazo.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/179.webp",1920,800,false],"portraits":["https:\/\/dazo.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/179.webp",1920,800,false],"thumbnail":["https:\/\/dazo.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/179-150x150.webp",150,150,true],"medium":["https:\/\/dazo.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/179-300x125.webp",300,125,true],"large":["https:\/\/dazo.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/179-1024x427.webp",525,219,true],"1536x1536":["https:\/\/dazo.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/179-1536x640.webp",1536,640,true],"2048x2048":["https:\/\/dazo.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/179.webp",1920,800,false],"twentyseventeen-featured-image":["https:\/\/dazo.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/179.webp",1920,800,false],"twentyseventeen-thumbnail-avatar":["https:\/\/dazo.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/179-100x100.webp",100,100,true]},"rttpg_author":{"display_name":"Kanya T","author_link":"https:\/\/dazo.id\/blog\/author\/kanya\/"},"rttpg_comment":0,"rttpg_category":"<a href=\"https:\/\/dazo.id\/blog\/bisnis\/\" rel=\"category tag\">Bisnis<\/a>","rttpg_excerpt":"Sebagian besar pemilik bisnis pernah merasa bahwa pesan broadcast yang dikirim tidak direspons sesuai harapan. Padahal pesan tersebut sudah dirancang rapi, dipikirkan matang, bahkan dikirim di jam yang dianggap \u201cpaling tepat\u201d. Nyatanya, open rate sering kali justru turun atau stagnan. Kondisi ini wajar karena perilaku pengguna WhatsApp dan kanal pesan lainnya semakin padat dan cepat&hellip;","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/dazo.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3138","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/dazo.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/dazo.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dazo.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dazo.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3138"}],"version-history":[{"count":6,"href":"https:\/\/dazo.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3138\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3145,"href":"https:\/\/dazo.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3138\/revisions\/3145"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dazo.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media\/3133"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/dazo.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3138"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/dazo.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3138"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/dazo.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3138"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}