Di bulan Ramadhan, frekuensi broadcast WhatsApp bisa meningkat hingga 3 kali lipat. Semua brand berlomba hadir di inbox pelanggan. Masalahnya sederhana: satu pesan di waktu yang salah bisa berakhir di arsip, di-skip, atau lebih buruk dilaporkan sebagai spam. Masalahnya bukan pada promonya, tetapi pada jam pengirimannya.
Ramadhan mengubah hampir semua rutinitas. Jam tidur bergeser, pola konsumsi berubah, dan kebiasaan “memegang HP” ikut beradaptasi. Artinya, strategi broadcast yang efektif di bulan lain belum tentu relevan di bulan puasa. Disinilah eksperimen waktu menjadi krusial, bisnis yang tetap menggunakan jadwal broadcast biasa berisiko kehilangan momen emas konversi.
Artikel Dazo Blog kali ini akan membahas eksperimen waktu-waktu tertentu, lebih tepatnya golden time bagi bisnis mengirimkan pesan broadcast saat bulan Ramadhan secara data-driven. Fokusnya membandingkan Sahur dan Ngabuburit untuk menemukan waktu dengan potensi penjualan tertinggi. Simak ulasannya!
Eksperimen Data: Sahur vs Ngabuburit
Berdasarkan pola engagement WhatsApp selama Ramadhan (open rate, click-through rate, dan waktu respons), dua jendela waktu konsisten menunjukkan performa paling kontras: Sahur dan Ngabuburit. Keduanya sama-sama ramai, tetapi dengan karakter psikologis yang sangat berbeda. Perbandingan ini didasarkan pada analisis tren perilaku pengguna mobile selama Ramadhan ditahun sebelumnya.
Telkomsel mencatat lonjakan trafik digital hingga sekitar 87 % pada waktu sahur (03.00–05.00 WIB), menjadikan periode itu sebagai salah satu peak hour engagement digital bagi brand, sementara survei perilaku belanja online menunjukkan bahwa waktu seperti ngabuburit juga menjadi peluang tinggi interaksi dan transaksi. Tren ini menunjukkan bahwa mobile tetap menjadi kanal utama perilaku digital konsumen selama momen spesial seperti Ramadan.
The Sahur Window (03.30–05.00)
Pada jam Sahur, pengguna cenderung setengah sadar tetapi aktif memegang HP. Banyak orang scrolling sambil setelah makan sahur sembari menunggu imsak atau waktu subuh. Fokus mereka rendah, tetapi atensi masih terbuka. Notifikasi WhatsApp relatif lebih “bersih” karena belum terlalu banyak broadcast masuk.
Psikologi Pengguna:
-
-
- Otak belum dalam mode defensif terhadap iklan
- Lebih reseptif terhadap pesan bernuansa personal
- Tidak terburu-buru mengambil keputusan
-
Sahur adalah waktu ideal untuk soft-sell: reminder, edukasi ringan, atau promo yang tidak mendesak. Konten seperti paket sahur, menu praktis, atau pesan bernilai emosional cenderung dibaca sampai selesai, meski closing belum terjadi saat itu juga. Jenis pesan yang efektif adalah yang singkat dan tidak memaksa. Call to action sebaiknya bersifat eksploratif, bukan langsung jualan.
The Ngabuburit Window (16.00–18.00)
Inilah jam dengan trafik tertinggi selama Ramadhan. Aktivitas belanja meningkat tajam terjadi di jam ngabuburit karena orang menunggu waktu berbuka sambil mencari hiburan, inspirasi belanja, atau kebutuhan persiapan buka puasa. Pada waktu ini konsentrasi dan emosi berada di level tinggi.
Psikologi Pengguna:
-
-
- Impulsif
- Fokus pada solusi cepat
- Siap mengambil keputusan jika jalurnya jelas
-
Ngabuburit adalah waktu “panas” untuk broadcast yang mengarah langsung ke konversi, misalnya: landing page hampers, pakaian Lebaran, atau promo berbatas waktu. Namun, kompetisinya juga paling brutal. Pesan Anda harus singkat, relevan, dan langsung ke poin. Justru pada momen ini, broadcast WhatsApp berfungsi sebagai pemicu keputusan cepat.
Untuk menghindari resiko blokir saat gempuran promo Ramadhan, pertimbangkan untuk melakukan transisi WhatsApp Business ke versi API. Pada H+2 minggu ramadhan data e-commerce menunjukkan adanya lonjakan transaksi menjelang Maghrib, terutama untuk produk berupa hampers dan kebutuhan Lebaran. Maka pesan yang efektif harus bersifat visual, jelas, dan langsung ke solusi. Landing page hampers dan penawaran terbatas bekerja paling optimal pada moment ini.
The Tarawih Lull (19.00–20.30)
Jam ini sering dianggap aman, padahal justru paling berisiko. Banyak pengguna sedang salat tarawih, berkumpul dengan keluarga, atau sengaja menonaktifkan notifikasi. Maka moment ini adalah zona berbahaya untuk mengirimkan broadcast. Aktivitas ibadah membuat pesan mudah diabaikan atau dianggap mengganggu. Dengan begitu risiko report spam meningkat signifikan pada periode ini. Selain itu risiko lainnya ketika mengirim broadcast di waktu ini:
-
-
- Pesan tidak dibuka sama sekali
- Dianggap mengganggu
- Dilaporkan sebagai spam
-
Strategi terbaik adalah menghentikan seluruh broadcast. Sistem sebaiknya hanya menerima inbound chat atau menjalankan auto-reply pasif.
Anti-Spam Strategy: Menjual Lewat Cerita
Pesan generik seperti “Promo Diskon 50% Hari Ini” sudah kehilangan daya tarik, terutama di Ramadhan ketika inbox atau chat penuh. Yang masih bekerja adalah cerita. Dengan memberikan cerita yang relevan secara emosional akan membantu pesan terasa personal dan tidak mengganggu.
Storytelling sales menggeser fokus dari spesifikasi ke konteks emosional. Misalnya, alih-alih menjual hampers premium dengan daftar isi produk, ceritakan momen mudik, rasa rindu keluarga, dan keinginan memberi sesuatu yang bermakna saat Lebaran. Pendekatan ini akan meningkatkan kepercayaan dan durasi interaksi.
Membuat broadcast terasa seperti percakapan, bukan iklan. Secara psikologis, cerita menurunkan resistensi dan meningkatkan waktu baca. Hal ini menjadi dua faktor penting untuk konversi. Storytelling juga menurunkan risiko spam report.
A/B Testing Broadcast: Cara Menemukan “Jam Emas” Bisnis Anda
Tidak semua bisnis memiliki pola audiens yang sama. Karena itu, eksperimen terstruktur jauh lebih efektif daripada asumsi. Misalnya dengan melakukan A/B testing membantu Anda dalam menemukan waktu paling efektif berdasarkan data internal. Berikut beberapa strategi yang bisa dicoba:
Split Audience
Bagi database pelanggan menjadi dua grup dengan karakteristik serupa, misalnya didasarkan pada jumlah, demografi, dan histori interaksi. Namun yang perlu diperhatikan pastikan Anda juga membagi segmentasi berdasarkan pembelian. Hal ini akan lebih membantu Anda untuk melihat dampak bisnis secara langsung.
Variabel Waktu
Kirim pesan yang sama pada waktu berbeda. Grup A menerima broadcast saat Sahur dan Grup B menerima pesan yang sama saat Ngabuburit. Lihat traffik yang memiliki dampak paling besar dimana
Analisis Metrik
Perhatikan tiga metrik utama:
-
-
- Open rate
- Click-through rate
- Conversion atau closing
-
Sering kali, waktu sahur unggul di open rate dan click through rate, sementara waktu ngabuburit menang di conversion. Fokus pada metrik penjualan, bukan hanya jumlah balasan. Data inilah yang menjadi dasar keputusan, bukan feeling.
Otomasi
Setelah hasil terbaik ditemukan, gunakan Workflow AI untuk membantu Anda menjadwalkan pengiriman otomatis di jam paling efektif, tanpa harus mengandalkan manual reminder dari tim. Sistem akan mengirim pesan pada jam paling optimal tanpa intervensi manual.
Checkout Otomatis: Mengunci Penjualan Sebelum Berbuka
Satu kesalahan fatal saat Ramadhan adalah membiarkan pelanggan yang tertarik harus menunggu admin membalas. Di jam ngabuburit, atensi sangat pendek. Begitu azan Maghrib berkumandang, fokus berpindah total peluang menjadi hilang. Maka tanpa alur checkout otomatis:
-
-
- Pelanggan lupa
- Niat beli menguap
- Penjualan hilang tanpa disadari
-
Pelanggan cenderung enggan menunggu balasan manual. Alur pembelian yang terhubung langsung dari broadcast ke checkout memastikan momentum tetap terjaga, bahkan ketika tim admin sedang tidak aktif.
Misalnya dengan mengaktifkan fitur checkout otomatis memastikan pelanggan bisa langsung bayar. Fitur integrasi payment gateway dan konfirmasi instan menjaga momentum tetap hidup. Sistem yang siap harus mampu bekerja tanpa jeda. Ini bukan soal kecepatan admin, tetapi kesiapan infrastruktur.
Kesimpulan
Menentukan waktu terbaik broadcast WhatsApp di bulan Ramadhan bukan soal tebak-tebakan, tetapi soal membaca perilaku manusia. Sahur unggul untuk membangun kedekatan dan awareness, sementara Ngabuburit menjadi mesin konversi jika didukung pesan dan sistem yang tepat.
Dengan segmentasi cerdas, storytelling yang relevan, serta otomatisasi berbasis data, broadcast tidak lagi terasa massal. Dazo membantu bisnis Anda mengelola strategi ini secara terintegrasi mulai dari Chatbot AI, pengiriman broadcast terjadwal, integrasi CRM, hingga pengelolaan penjualan dalam satu sistem. Jika Anda ingin setiap pesan terkirim di waktu yang paling tepat dan terasa personal bagi tiap pelanggan, Dazo siap menjadi fondasi AI Business Assistant Anda di Ramadhan dan seterusnya.
FAQ
- Kapan waktu terbaik broadcast WhatsApp saat Ramadhan?
Waktu terbaik biasanya Ngabuburit antara pukul 16.00–18.00 untuk konversi. Sahur cocok untuk engagement ringan dan edukasi. - Apakah broadcast saat Sahur efektif untuk jualan?
Efektif untuk soft-sell dan brand recall. Namun, tingkat closing biasanya lebih rendah dibanding jam sore. - Jam berapa sebaiknya tidak mengirim broadcast WhatsApp?
Hindari jam Tarawih antara 19.00–20.30 karena risiko spam report meningkat. - Bagaimana cara menghindari broadcast dianggap spam?
Gunakan storytelling, segmentasi audiens, dan hindari pesan hard-sell berulang. - Apakah perlu A/B testing untuk broadcast WhatsApp?
Perlu. Setiap bisnis memiliki pola audiens berbeda. A/B testing membantu menemukan jam emas berdasarkan data nyata.
Referensi
Telkomsel Bongkar “Momen Emas” Ramadan: Trafik Digital Meledak 87% di Waktu Sahur, Peak Hour Terbaik yang Bikin Iklan ‘Auto-Nempel’ (Telkomsel.com)




