Banyak bisnis sudah mencoba AI untuk marketing, tetapi hasilnya belum konsisten. Iklan terasa lebih cepat dibuat, konten lebih banyak diproduksi, namun konversi tidak selalu ikut naik. Masalahnya bukan pada teknologi, melainkan pada cara AI digunakan.
Tahun 2025 penggunaan AI Driven Marketing tidak lagi berbicara soal eksperimen. Fokusnya bergeser ke integrasi sistematis antara kecerdasan mesin dan pengambilan keputusan manusia. Pendekatan hybrid inilah yang membedakan bisnis yang sekadar “pakai AI” dengan bisnis yang benar-benar memperoleh ROI.
Mengapa Era Coba-Coba AI Marketing Sudah Berakhir?
Beberapa tahun terakhir, AI sering diposisikan sebagai pengganti peran manusia. Faktanya, pendekatan ini jarang bertahan lama. Menurut survei Gartner, banyak organisasi yang mengadopsi alat AI dalam pemasaran atau fungsi lainnya tidak melihat dampak bisnis yang signifikan. Sekitar 45 % pemimpin teknologi pemasaran mengatakan alat AI tidak memenuhi ekspektasi kinerja mereka, dan tantangan utama termasuk kurangnya integrasi dengan strategi organisasi dan kesiapan data yang memadai.
Masalah utama muncul ketika AI digunakan tanpa arah yang jelas. Data diolah, konten dihasilkan, tetapi tidak terhubung dengan tujuan penjualan. Dititik ini, peran manusia menjadi krusial sebagai pengarah strategi, bukan sekadar operator saja. AI Driven Marketing modern menempatkan AI sebagai alat bantu, sementara manusia tetap memegang kendalinya. Sebagai kepala dan manajerial dalam mengontrol posisi, pesan, hingga keputusan tahap akhir.
Pilar Utama AI-Driven Marketing Modern
Agar AI benar-benar berdampak pada ROI, ada tiga pilar utama yang perlu dibangun secara bersamaan.
Analisis Prediktif, Membaca Kebutuhan Sebelum Muncul
AI mampu memproses data dalam skala besar untuk menemukan pola perilaku konsumen. Dengan analisis prediktif, bisnis dapat mengantisipasi kebutuhan pelanggan sebelum mereka menyadarinya. Menurut riset McKinsey menjelaskan bahwa organisasi yang memakai AI-driven forecasting dapat otomatisasi sebagian besar tugas forecast dan mengurangi biaya operasional hingga 10–15 % sambil meningkatkan respon terhadap perubahan permintaan. Hasilnya terlihat pada penawaran yang lebih tepat waktu dan relevan.
Hiper-Personalisasi, Pengalaman Unik dalam Skala Besar
Personalisasi tidak lagi berhenti pada penyebutan nama. AI memungkinkan penyesuaian pesan, waktu pengiriman, dan kanal komunikasi untuk setiap individu. Menurut laporan Epsilon, 80% konsumen lebih mungkin melakukan pembelian ketika brand menawarkan pengalaman yang dipersonalisasi. AI membuat pendekatan ini dapat dilakukan secara massal tanpa membebani tim.
Kreatif Generatif, Otomasi Tanpa Kehilangan Identitas Brand
AI generatif mempercepat produksi teks dan visual. Tantangannya terletak pada menjaga konsistensi brand. Tanpa panduan yang jelas, hasil konten cenderung generik. Disinilah peran manusia memastikan tone, value, dan diferensiasi brand tetap terjaga meski produksi konten berjalan otomatis.
Baca juga: AI Automation Platforms untuk Efisiensi Bisnis UMKM
Contoh Penggunaan AI Driven Marketing dalam Pemasaran
Hyper Personalization E-Commerce
Pasca sistem di aplikasi Netflix atau Amazon menerapkan AI Hyper Personalization, maka perusahaan lain mulai menerapkan hal yang sama. AI memantau perilaku setiap pengunjung secara individu, bukan sebagai kelompok besar. Sebagai contoh, Anda mengunjungi toko online sepatu, AI tidak hanya menampilkan “sepatu populer”. Ia akan menampilkan sepatu lari warna biru ukuran 42 karena ia tahu itulah preferensi Anda berdasarkan riwayat klik sebelumnya. Hasilnya? Konversi penjualan naik karena produk yang ditampilkan sangat relevan dengan keinginan pembeli saat itu juga.
Penentuan Harga Dinamis (Dynamic Pricing)
AI membantu bisnis mengubah harga secara otomatis berdasarkan permintaan pasar, stok, dan harga kompetitor secara real-time. Misalnya, layanan transportasi online (seperti Grab/Gojek) atau maskapai penerbangan. AI menaikkan harga saat permintaan tinggi dan menurunkannya saat sepi untuk memastikan tingkat keterisian tetap maksimal. Hasilnya? Bisnis dapat memaksimalkan profit tanpa perlu intervensi manual setiap jam.
Analisis Sentimen untuk Layanan Pelanggan
Pada bagian ini AI digunakan untuk “membaca” emosi pelanggan di media sosial atau chat sebelum tim customer service merespon. Misalnya sebuah brand besar menggunakan AI untuk memantau ribuan komentar di Instagram. Jika AI mendeteksi komentar dengan nada marah (sentimen negatif) yang tinggi, komentar tersebut akan diprioritaskan ke tim agent untuk segera ditangani sebelum menjadi krisis public relations. Dari hal tersebut akan memberikan dampak terhadap penanganan komplain lebih cepat dan menjaga reputasi brand tetap positif.
Predictive Lead Scoring (B2B Marketing)
Dalam bisnis B2B, AI membantu menentukan mana calon klien (lead) yang paling mungkin melakukan pembelian. Misalnya, AI menganalisis data ribuan orang yang mengunduh whitepaper atau melihat harga di website. AI kemudian memberi “skor” tinggi pada user yang sering mengunjungi halaman “kontak kami”, sehingga tim sales hanya fokus menghubungi orang-orang bedasarkan skor yang paling tinggi. Dampaknya? tim sales tidak membuang waktu untuk menelpon orang yang hanya sekadar melihat-lihat.
Media Buying & Ad Optimization (Iklan Digital)
Pada kasus ini bukan lagi manusia yang menebak target audiens, melainkan algoritma AI pada platform seperti Meta Ads atau Google Ads. Misalnya, Anda cukup memberikan materi iklan (gambar dan teks), lalu AI akan melakukan ribuan tes (A/B testing) secara otomatis untuk mencari kombinasi mana yang paling banyak menghasilkan klik dengan biaya termurah. Maka biaya iklan (CAC) akan menjadi lebih murah dan hasil (ROI) meningkat.
Framework Hybrid: Panduan Implementasi AI Driven Marketing
Mengadopsi AI membutuhkan kerangka kerja yang jelas tujuan dan arahnya. Dengan framework hybrid membantu bisnis memanfaatkan AI tanpa kehilangan kontrol strategis. Ada beberapa fase dan perbedaan antara tugas AI dan tugas manusia yang perlu diperhatikan:
Fase 1: Pengayaan Data First-Party
Data internal seperti histori transaksi, chat pelanggan, dan CRM menjadi fondasi utama. Tanpa data berkualitas, AI hanya menghasilkan rekomendasi umum yang sulit dikonversi. Bisnis yang mengandalkan first-party data juga lebih siap menghadapi era tanpa cookie pihak ketiga.
Fase 2: Library Prompt dan SOP Marketing
AI bekerja optimal dengan input yang konsisten, library prompt membantu tim menghasilkan hasil yang selaras dengan strategi brand. Standarisasi ini mengurangi variasi kualitas konten dan mempercepat kolaborasi lintas tim.
Fase 3: Human-in-the-Loop
Pengawasan manusia memastikan keputusan strategis tetap relevan. AI menyajikan opsi dan prediksi, sementara manusia menentukan arah berdasarkan konteks bisnis. Pendekatan ini terbukti lebih adaptif dibanding otomatisasi penuh, terutama dalam kampanye bernilai tinggi.
Mengukur Kesuksesan AI Driven Marketing dengan KPI yang Tepat
Kesalahan umum adalah mengukur kesuksesan AI dari efisiensi waktu semata. Padahal, ROI marketing ditentukan oleh dampak pada penjualan. KPI yang relevan meliputi:
-
-
- Conversion rate per segment
- Customer lifetime value
- Cost per acquisition berbasis channel
- Revenue per campaign
-
AI seharusnya membantu meningkatkan kualitas keputusan, bukan sekadar mempercepat proses.
Baca juga: B2B Marketing Strategi, Kunci Pertumbuhan Bisnis Berkelanjutan
Etika dan Privasi: Navigasi Dunia Tanpa Cookie
Di Indonesia, kepatuhan terhadap UU Perlindungan Data Pribadi menjadi perhatian utama. AI Driven Marketing harus berjalan selaras dengan regulasi dan transparansi penggunaan data. Pendekatan berbasis first-party data dan atas dasar persetujuan pelanggan menjadi standar baru. Bisnis yang mengabaikan aspek ini berisiko kehilangan kepercayaan pasar.
Kesimpulan
AI Driven Marketing di 2025 menuntut keseimbangan antara teknologi dan strategi manusia. Framework hybrid membantu bisnis memanfaatkan kecepatan AI tanpa kehilangan arah.
Melalui pendekatan terintegrasi seperti yang diterapkan di Dazo.id, bisnis dapat mengelola interaksi pelanggan, CRM, pesan broadcast, hingga penjualan dalam satu ekosistem. Dukungan Chatbot AI, Order Management System, dan Toko Digital memungkinkan strategi AI Driven Marketing berjalan lebih terukur dan berorientasi ROI.
Referensi
Gartner Survey Finds 45% of Martech Leaders Say Existing Vendor-Offered AI Agents Fail to Meet Their Expectations of Promised Business Performance, 2025 (Gartner.com)
AI-driven operations forecasting in data-light environments, 2022 (mckinsey.com)
The personalisation mismatch: Rift grows between brand offerings and consumer desires,2018 (epsilon.com





